Analisis Dampak Kebijakan Trump terhadap Industri IT Taiwan

Photo: Illustration
Dengan pendekatan "America First" yang dicanangkan oleh Trump, perusahaan - perusahaan Taiwan harus mulai melakukan pembukaan pusat manufakturing di Amerika sebagai bentuk investasi & menjangkau pasar lokal AS.
Kebijakan ekonomi yang diberlakukan Trump: tarif, investasi, dan regulasi ke berbagai negara & beberapa sektor termasuk sektor teknologi, menunjukkan kegairahan Trump untuk mengembalikan adidaya AS, serta memulihkan Kembali ekosistem manufaktur AS dan menekan defisit fiskal.
Ada enam tujuan yang Trump ingin capai dengan diberlakukannya kebijakan ekonomi ini:
Memastikan keamanan ekonomi nasional AS
Memperbaiki masalah defisit perdagangan: Mengurangi selisih impor yang lebih besar daripada ekspor (AS tidak mau tekor terus)
Mendorong investasi asing masuk ke AS
Membangun kembali kapabilitas manufaktur AS
Mengurangi tekanan defisit fiskal
Memulihkan dominasi energi
Dalam proses mencapai 6 tujuan tersebut, negara-negara kunci yang memproduksi perangkat keras AI seperti Taiwan harus mencari strategi dalam menata ulang kembali pusat produksi mereka, tidak bisa mengandalkan produksi dalam negeri sendiri, perusahaan-perusahaan Taiwan serta perusahaan pendukungnya harus membuka pusat produksi di negara-negara bagian AS sebagai investasi jangka panjang dan menjangkau pasar lokal AS.
Mencari Siapa Kawan Siapa Lawan
Dalam jalan mengeksekusi tarif kepada negara-negara, setidaknya AS akan melakukan tiga fase krusial. Diawal, semua negara akan dipukul rata dengan berbagai regulasi & tarif, negara yang curang atau ketahuan menjalankan praktik “transshipment” (hanya memindahkan barang lewat negara lain tanpa adanya proses produksi nyata) akan dikenakan denda 40% di fase yang kedua, serta negara yang menurut/ beraliansi akan diberikan “Hadiah” yang bisa mencapai tarif 0% di fase yang ketiga.
Fase I
Pada tahap ini, AS mengumumkan tarif tinggi untuk mengejutkan pasar, tetapi memberikan sedikit "ruang bernapas" agar ekonomi tidak langsung runtuh. Pemerintah AS tidak langsung memungut semuanya 100%. Mereka menggunakan "Daftar Penangguhan" (Suspension List) dan "Daftar Pengecualian" (Exemption List) untuk produk-produk tertentu. Ini taktik agar inflasi dalam negeri AS tidak langsung meledak.
Fase II
Setelah tarif diumumkan, AS mulai memburu negara/perusahaan yang mencoba curang. AS akan mengenakan Tarif Tambahan 40% untuk produk yang mencoba menghindari tarif negara asal dengan cara "mampir" atau transit di negara ketiga (misal: Barang China dikirim ke Vietnam ganti label, lalu ke AS).
Fase III
Ini adalah tahap akhir di mana "teman" dan "lawan" sudah dipisahkan secara jelas. Negara-negara yang sudah menandatangani perjanjian dagang (FTA) atau dianggap sekutu dekat akan dimasukkan ke dalam daftar PTAAP (Potential Tariff Adjustments for Aligned Partners). Negara di daftar ini bisa menikmati Tarif 0% atau tarif "Most-Favored-Nation" (MFN) yang sangat rendah.
Fakta di lapangan, setelah inisiasi tarif ini diberlakukan Trump, pendapatan bea cukai AS melonjak drastis, dengan pertumbuhan YoY mencapai >300% dibulan-bulan awal TA 2025 (April-Juni).

Tarif Mendorong Pemerintah Untuk Aktif dalam Berinvestasi, Meningkatkan Perdagangan, serta Mempercepat Pembukaan Pasar
Strategi yang dibuat Trump tidak hanya menggunakan tarif untuk melindungi pasar namun juga sebagai umpan masuknya investasi. Seakan Washington (Pemerintahan Amerika Serikat) memesankan pada pemerintah negara – negara: “Jika Anda tidak ingin produk Anda dipajaki mahal saat masuk ke AS, maka bangunlah pabrik dan tanamlah modal di dalam negeri kami."
Contoh seperti Uni Eropa (EU) disebutkan coba untuk menghindari tarif dengan membeli produk – produk energi (LNG/ gas alam cair) dan produk pertanian dari AS, serta mendorong untuk mengekspansi pasar otomotif untuk berinvestasi di AS, seperti yang dicantumkan pada US-EU FTA Framework Agreement. Selain itu, juga seperti Jepang dan Korea Selatan fokus pada investasi teknologi tingkat tinggi (seperti semikonduktor dan baterai) sebagai “tiket masuk” agar tetap bisa berbisnis di AS tanpa hambatan tarif Pasal 232 atau tarif timbal balik.
Hal Seperti ini sebenarnya menjadi semacam Carrot & Stick bagi pemerintahan AS.
Carrot (Imbalan): Tarif tinggi yang akan menghancurkan daya saing produk impor.
Stick (Ancaman): Pengecualian tarif atau pengurangan tarif bagi negara/perusahaan yang setuju untuk memindahkan rantai pasokan mereka ke tanah Amerika.
Investasi yang diharapkan pemerintah AS adalah sifatnya yang transaksional. Artinya, janji investasi harus diikuti dengan realisasi (seperti jadwal pembangunan pabrik yang jelas), jika tidak, tarif akan kembali diberlakukan.

Pemerintahan AS Mendorong Strategi “Attracting” & “Restricting” untuk Mendatangkan Investasi Baru
Pemerintahan AS menyediakan “karpet merah” bagi perusahaan yang bersedia memindahkan produksinya ke AS, namun dengan syarat yang lebih ketat daripada era sebelumnya.
Pembentukan "Office of Investment Acceleration" (Kantor Akselerasi Investasi): fokusnya adalah mempercepat proyek – proyek besar yang nilai investasinya di atas US$1 miliar. Tujuannya adalah memangkas birokrasi. Jika ada perusahaan yang membawa investasi besar, maka pemerintah berkomitmen akan cepat menyelesaikan administrasi dan penyediaan infrastruktur.
Insentif pajak melalui “Big and Beautiful Act” atau “One Big Beautiful Bill Act (OBBBA)”: Ini adalah janji politik Trump yang mana memberikan potongan pajak ke perusahaan yang melakukan manufaktur di AS. dan “Big and Beautiful Act”, merujuk ke perusahaan – perusahaan yang ia ingin lihat.
Subsidi Menjadi Ekuitas (Equity Stake): di era pemerintahan Biden, peruhaan yang melakukan proses manufaktur diberikan subsidi/ hibah seperti melalui CHIPS Act. Namun di era Trump, pemerintah AS bisa meminta kepemilikan saham (ekuitas) sebagai imbalan atas dukungan finansial. Artinya, pemerintah AS bisa menjadi "pemilik sebagian" dari perusahaan.
Namun di balik strategi “karpet merah”, pemerintah AS juga tidak ingin modal yang sudah masuk “bocor” kembali ke negara – negara pesaing (khusunya China).
Pembatasan investasi dua arah (Dual-way Investment Restriction): AS membatasi aliran modal keluar dari AS ke negara – negara yang dianggap musuh (adversaries) dan mengawasi ketat pemodalan dari mereka.
Fokus pada sektor teknologi kritis: AI, Quntum Computing, Semiconductor
Mengencangkan dan melebarkan investasi oleh China

Washington Berbenah, Mereka Mulai Melonggarkan Pengawasan Pengembangan AI dalam Negeri dan Penguatan Kontrol untuk Luar Negeri
Washington menyadari, untuk memenagkan persaingan teknologi (terutama dengan China) mereka harus membentuk strategi yang dilakukan bersamaan:
Ke dalam negeri (Domestik): dengan melakukan relaksasi pada aturan yang terlalu ketat demi mempercepat inovasi teknologi
Ke luar negeri (Internation): dengan memperketat aturan ekspor untuk teknologi penting, terutama dengan China, agar tidak mendapatkan akses ke teknologi canggih.
Sebenarnya, untuk perusahaan yang menjual teknologi AS di dalamnya, dapat menjadi sangat riskan bila tidak melakukan screening ke siapa mereka menjual produknya, dan bilamana secara sengaja atau tidak sengaja perusahaan tersebut menjual produknya ke negara – negara yang masuk daftar hitam AS, maka siap – siap untuk menerima hukuman sekunder.

Dampak Pada Rantai Pasokan Sektor ICT Taiwan
Taiwan melalui perusahaan TSMC, sebagai negara pusat produksi chip mutakhir di Dunia, memiliki peran penting dalam memproduksi chip untuk berbagai macam produk & keperluan, terutama produksi chip – chip canggih-di bawah 7nm. Dari Apple, NVIDIA, hingga Tesla, akan lumpuh bilamana proses produksi dari TSMC berhenti, sehingga ini membuat semacam “Silicon Shield” yang mana kepentingan dunia terhadap chip Taiwan menjadi perlindungan geopolitik bagi negara tersebut.
Tidak berhenti di kemampuan Taiwan dalam memproduksi chip-chip canggih, Taiwan juga memiliki ekosistem OEM & ODM yang memadai & terintegrasi dengan baik. Sebut saja seperti ASUS, ACER, MSI, sudah memiliki kapabilitas sebagai pemain utama di pasar laptop & komponen. Lalu ada Foxconn sebagai manufaktur utama produk-produk Apple, seperti iPhone. Quanta serta Compal juga memproduksi mayoritas laptop bermerek di dunia (Dell, HP, dll)
Berdasarkan dua alasan: Taiwan sebagai pusat produksi chip mutakhir dan Taiwan sebagai tempat banyak perusahaan OEM & ODM, maka kebijakan tariff Trump di sektor semikonduktor dan ICT sangat mempengaruhi stabilitas ekonomi & rantai pasok teknologi Taiwan. Contoh: dengan diberlakukan kebijakan tarif, perusahaan-perusahaan Taiwan didesak untuk memeriksa kembali perencanaan kapasitas mereka, mulai dari distribusi lokasi hingga evaluasi relokasi tempat produksi.
Pemerintahan Trump juga tidak segan memerangi praktik transshipment (pengiriman melalui negara ketiga untuk menghindari tarif) dengan memberikan pajak yang lebih besar-bilamana perusahaan tersebut melanggar & menjalankan praktik transshipment.

Perusahaan Taiwan Masih Bergantung pada Produksi ICT di China, namun tidak untuk Produksi Perangkat keras AI
Melihat peta produksi dari perusahaan – perusahaan Taiwan, sebagian besar produksi produk ICT masih dilakukan di China, sebut saja seperti desktop yang mana produksinya 70% masih mengandalkan manufaktur China, tidak hanya itu laptop juga 69% produksinya masih di China, dan juga ponsel yang 68% produksinya masih di China.
Awalnya hal seperti ini tidak terlalu menjadi masalah sebelum isu tarif diberlakukan, namun kondisinya sekarang berbalik, yang mana perusahaan – perusahaan Taiwan harus mulai berpikir memindahkan sebagian pusat produksinya dari China untuk memitigasi penalti tarif yang lebih tinggi. Taiwan tetap bisa mempertahankan kapasitas produksinya di China untuk pasar domestik China itu sendiri dan pasar non-AS, sementara untuk pasar AS disuplai dari produksi dari negara Asia Tenggara atau investasi langsung di Amerika Utara.
Berbeda dengan pasar server AI, yang mana tidak memiliki kapasitas produksi di China karena sudah dari awal China tidak mendapatkan akses untuk bisa menerima chip – chip akselerator AI untuk membuat server AI – sehingga sekarang produksi server AI berfokus di Taiwan itu sendiri sebagai produsen dan negara – negara di Asia Tenggara.

Trump Terus coba Menarik Perusahaan Luar AS, termasuk Taiwan untuk Berinvestasi di tanah AS
Melalui perusahaan lokal AS Trump coba terus mendorong perusahaan dari luar AS untuk ikut berinvestasi dengan cara membangun “pull efect” dari perusahaan – perusahaan lokal AS, contoh:
NVIDIA, investasi rantai pasok $500 miliar, termasuk pabrik pengemasan chip di Arizona,
Apple, investasi $600 miliar untuk infrastruktur AI, termasuk dukungan untuk Apple Intelligence,
OpenAI, bersama Microsoft dan Oracle menginvestasikan $500 miliar untuk 20 pusat data,
Micron, investasi $200 miliar untuk manufaktur memori canggih di Idaho dan Virginia,
AWS, investasi lebih dari $40 miliar untuk membangun pusat data di Georgia,
Micron: investasi $200 miliar untuk manufaktur memori canggih di Idaho dan Virginia
Dengan metode “pull effect” ini, mau tak mau, perusahaan non-AS seperti: TSMC, Foxconn (Hon Hai), Quanta, dan Wistron lebih baik melakukan investasi dengan membangun pusat manufaktur untuk meningkatkan efisiensi produksi dan mencegah tarif yang tinggi, dari AS.

Contoh saja, Foxconn mulai berinvestasi lebih dari $130 juta di California karena kedekatan geografisnya dengan klien – klien utamanya serta ketersediaan SDM yang memadai. TSMC juga menambah investasi sebesar $100 miliar dengan membangun 3 pabrik canggih dan pusat R&D - Arizona dipilih oleh TSMC dengan ketersediaan ekosistem semikonduktornya yang memadai sehingga mengurangi beban produksi.
Texas sebagai negara bagian terbesar kedua di Amerika Serikat, juga dipilih oleh perusahaan – perusahaan asal Taiwan: GlobalWafers ($4 miliar), Wistron ($460 juta), dan Inventec ($85 juta) sebagai tempat investasi mereka, karena mengingat ketersediaan energi serta insentif pajak yang menarik.

Dampak Pada Rantai Pasokan Sektor Semikonduktor Taiwan
Melihat dari dampak tarif yang bisa sangat masif untuk sebagian besar produsen Taiwan, perlu adanya strategi – strategi yang konkret untuk menjaga Taiwan sebagai pusat inovasi & teknologi semikonduktor dunia.
Dua pilar yang bisa dijadikan acuan dasar untuk menjaga Taiwan sebagai pusat semikonduktor dunia di bawah tekanan “America First”:
Pilar Produksi
Ekspansi global dengan Taiwan sebagai inti (Hub-and-spoke Model)
Perusahaan Tiawan tetap aktif melakukan ekspansi untuk mendekati pasar, tapi tetap menjaga pusat inovasi di Taiwan.Fleksibilitas model investasi (Model JV & M&A)
Perusahaan tidak lagi melakukan pemodalan sendiri (sole proprietorship) melainkan menggunakan model Joint Venture (JV), merger, atau akusisi (M&A) untuk membagi risiko finansial dan mempercepat adaptasi dengan ekosistem lokal.Smart Manufacturing
Untuk menghadapi tingginya biaya tenaga kerja luar negeri seperti di AS, perusahaan harus bisa memaksimalkan penggunaan atomisasi dan platform manajemen digital – membuat hasil produk yang konsisten di setiap negara.
Pilar Operasional
Pengadaan Lokal & Pricing Berbasis Nilai
Membangun rantai pasok lokal (local procurement) untuk mengurangi ketergantungan pada pengiriman lintas batas yang rentan terhadap tarif dan gangguan logistik. Perusahaan mulai menyesuaikan strategi harga (pricing) untuk mencerminkan nilai tambah teknis (technical added value) guna menutupi kenaikan biaya operasional.Optimasi Fiskal (Subsidi & Kredit Pajak)
Perusahaan harus cerdas melihat subsidi yang diberikan oleh pemerintah pusat ataupun daerah, tujuannya adalah untuk mengurangi beban modal (capital burden) pembangunan pabrik yang sangat mahal di luar negeri.Pengembangan Bakat & Strategi Visa
Bekerja sama dengan pemerintah daerah melalui program magang (apprenticeship) untuk mendidik tenaga kerja lokal.
Pada 2030 TSMC diperkirakan akan mengurangi kapasitas produksi lokalnya dan memperluas kapasitas produksi global
Pada kondisi saat ini, TSMC masih memfokuskan produksi semikonduktornya di Taiwan, namun dengan adanya regulasi – regulasi baru seperti tarif, yang mungkin akan memicu negara – negara lain yang memiliki sumber mineral/ sumber daya alam yang diperlukan untuk memproduksi semikonduktor, tidak menutup kemungkinan negara – negara tersebut akan melakukan permintaan yang sama untuk lokalisasi. Sebagai gambaran, berikut kondisi kapasitas produksi TSMC:
2025: 83% kapasitas produksi semikonduktor Taiwan berada di dalam negeri, sementara 17% berada di luar negeri
2030(f): Diperkirakan kapasitas produksi di Taiwan akan sedikit menurun menjadi 80%, sementara kapasitas luar negeri meningkat menjadi 20%
TSMC dengan investasinya di AS sudah mulai memproduksi keperluan chip untuk pasar AS melalui Fab 21 P1 dengan teknologi 4nm. Direncanakan P2 akan mulai memproduksi massal teknologi 3nm pada 2027. Sementara P3 & P4 masih direncanakan untuk dapat memproduksi 2nm. Sementara, proses pengemasan canggih (Advance Packaging) AP1 & AP2 telah selesai menyelesaikan perataan tanah, dan siap untuk beroperasi di 2028 untuk memenuhi permintaan chip AI & HPC.
TSMC juga berkomitmen untuk meningkatkan local-sourcing sampai dengan 52.5% pada 2030 untuk pusat manufaktur mereka di luar negeri.
Dampak Pada Rantai Pasokan Sektor Server Taiwan
Sektor server Taiwan juga terdampak dengan inisiasi AS untuk mendorong pusat produksi dibuat secara regional. Di 2025 kapasitas produksi server Taiwan adalah sekitar 50% untuk dalam negeri dan 50% untuk luar negeri. Namun pada 2029, estimasinya akan berubah menjadi 45% untuk kapasitas produksi dalam negeri dan 55% untuk luar negeri.
Pasar server di AS juga diperkirakan melonjak dari 15% menjadi 30% pada tahun 2029. Untuk wilayah lainnya seperti Asia Tenggara & Eropa, masing-masing diperkirakan tumbuh sebesar 5%
Pergerakan ekspansi perusahaan-perusahaan Taiwan di AS pun mulai terlihat. Misalnya saja Foxconn & TECO, mereka beraliansi untuk membangun datacenter AI. Foxconn yang ahli dalam manufaktur server dan sistem pendingin serta TECO melalui anak perusahaannya Westinmore di AS memberikan nilai tambah karena mereka adalah pemasok federal AS yang memiliki kualifikasi resmi. Mereka ahli dalam infrastruktur kelistrikan seperti motor, generator, transformator, dan panel distribusi daya.
Quanta melalui pusat produksinya di Mexico, merevitalisasi dari yang sebelumnya memproduksi komponen kendaraan listrik menjadi lini produksi server AI.
Wiwynn Mengambil langkah strategis dengan menghentikan kontrak sewa pabrik di Texas lebih awal untuk beralih ke model pembelian aset senilai US$72,8 juta. Langkah ini diambil demi rencana jangka panjang perusahaan di pasar Amerika Serikat.